Larang Ini Larang Itu

Masih segar diingatan kita tentang aturan larangan mengangkang bagi wanita yang berboncengan di sepeda motor. Tepatnya aturan tersebut diberlakukan di Kota Lhokseumawe, saat ini walikota yang menjabat adalah Suaidi Yahya. Sebelum menjadi walikota, Suaidi Yahya pernah menjabat sebagai wakil walikota saat masa kepemimpinan Munis Usman. Saya yang baru beberapa bulan kembali ke Lhokseumawe merasa heran sekaligus geli sendiri dengan peraturan ini. Sebagai lulusan Rekayasa Transportasi, saya tahu betul bahwa posisi duduk mengangkang ini adalah yang paling aman bagi keselamatan penumpang.

Pemerintah beralasan bahwa duduk “pheng” ini tidak sesuai dengan “budaya Aceh yang Islami”. Budaya yang menyesuaikan dengan Agama atau Agama yang menyesuaikan dengan Budaya, Pak? . Tapi saya entah kenapa tidak begitu khawatir dengan penerapan dilapangannya, karena pengalaman mengatakan dari sekian banyak peraturan yang diberlakukan toh akhirnya dilanggar juga. Kalaupun ada razia begana-begitu ya paling hangat-hangat taik ayam saja. Kalo duit operasional mandek, ya razia mandek juga. Seharusnya pemerintah lebih fokus pada kesejahteraan masyarakatnya daripada mengurusi hal-hal yang nanti akan dilanggar juga.

Baru-baru ini juga muncul isu bahwa disalah satu kota di Aceh diberlalukan larangan kentut bagi wanita , letak urgensinya dimana? Nilai-nilai alamiah terutama bagi kaum hawa semakin dikekang, seakan-akan kaum wanita adalah sumber dosa yang harus selalu diatur dengan peraturan-peraturan yang bikin pantat jadi gatal2 karena gelik. Masa gak boleh kentut? Hahaha ini asli lucu, tapi mudah-mudahan ini hanya rumor belaka. Semoga ini cuma kerjaan iseng media aja. Jaman sekarang media memang semakin jahat dan kabur saja. Yang mudah termakan berita pasti akan langsung percaya. Sumber beritanya dari luar negeri dan tidak disebutkan di kota mana. Ini Link nya

Lalu dimana peraturan untuk kaum adam? Bukankan syariat Islam itu untuk pria dan wanita. Selama ini masih banyak saya lihat pria-pria menggunakan celana pendek diatas lutut, berkeliaran dijalan-jalan. Saya semakin penasaran, kira-kira pemerintah kita mau gak ya keluarin peraturan pembatasan ruang gerak juga bagi pria, masa perempuan aja yang dijadikan titik fokus pengaturan syariah.

Ketika kembali ke kota ini saya membayangkan bagaimana tumbuhnya kota ini menjadi kota yang maju dan berkembang. Kekecewaan muncul ketika saya melihat masih banyak insfratruktur terutama jalan yang rusak parah dan tidak ada niatan untuk memperbaikinya sama sekali. Jalan yang saya lalui 5 tahun yang lalu, sekarang kondisinya semakin parah.

Berharap 100% dari pemerintah sepertinya hampir tidak mungkin. Apa yang bisa kita lakukan untuk kota tercinta? Jika saat ini pemerintah sedang sibuk mikir peraturan lucu apalagi buat diterapkan, seharusnya kita jangan diam. Masyarakat harus terus bergerak, dengan atau tanpa pemerintah. Lakukan hal-hal kecil yang bermanfaat bagi sekitar, kalo perlu buat komunitas agar semakin solid. Komunitas itu bukan hanya untuk kaum muda lho, yang tua juga harus nimbrung.

Karena Our City is Our Responsibility not Government Responsibility ( <– mudah2an grammarnya bener -__- )

Comments
  1. 4 years ago
  2. 4 years ago
  3. 4 years ago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *